Mempersiapkan Kematian

 oleh Ustdzh Erika Suryani Dewi, Lc. MA.

  • Salah satu aspek ketakwaan kita pada Allah SWT adalah dengan mengingat kematian.
  • Umur tidak berkaitan dengan badan yang sehat atau sakit. Kematian bisa datang begitu saja tanpa ada sebabnya.
  • Salah satu tanda malaikat maut sebentar lagi sudah mencabut nyawa kita adalah kita merasa ada yang memperhatikan kita berkali-kali.
  • Keutamaan Mengingat Mati
    • Dari Abi Hurairah berkata; bersabda Rasulullah SAW: “Perbanyaklah mengingat penghancur segala keledzatan, yaitu kematian” [HR At Turmudzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban]
    • Orang yang tenggelam dalam keduniawian tidak akan mengingat mati, sedangkan orang yang taubat akan banyak mengingat mati agar taubatnya sempurna dan diterima Allah SWT.

    Bekal yang akan dibawa (apa saja yg harus kita siapkan menghadapi perjalanan yang panjang)
    1. Memperbanyak kalimat Tauhid “Laa Illaaha Illa Allah” untuk meningkatkan keimanan kita.
    2. Baik sangka kepada Allah
    Saat kita sedang mengalami sakit yang lama, berarti itu waktunya pengurangan dosa dan menambah pahala.
    3. Suka bertemu dengan Allah
    Saat dalam kondisi sakaratul maut, bersenanglah bahwa kita sebentar lagi akan bertemu dengan Allah. Tidak perlu memikirkan bagaimana nanti masa depan orang-orang yang kita tinggalkan karena Allah lah yang akan Mengurusnya.
    4. Banyak bertaubat dan istighfar
    Jangan ditunda, mulai saat ini juga karena kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput kita. Kalau kita berpikir besok saja taubatnya setelah berbuat maksiat, siapa tahu nyawa kita justru malah diambil saat kita sedang melakukan maksiat itu. Nauzubillah min zalik. Allah juga tidak akan menerima taubat kita saat sedang mengalami sakaratul maut atau nyawa sudah sampai di tenggorokan.
    5. Menjaga sholat dan zakat
    Sedang dalam kondisi apapun, kita wajib melakukan sholat. Bahkan saat lumpuh pun, sholat bisa dilakukan dengan gerakan mata. Saat akan kita masih ada (tidak mengalami gangguan jiwa), di situlah kita diwajibkan sholat.

    • Orang yang selalu sadar dan mawas diri akan selalu mengingat mati dan menganggap kematian adalah awal perjumpaan dengan Sang Kekasih. “Jadilah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau pengembara.” Maksudnya, seorang pengembara itu selama apapun dia berada di suatu tempat, pasti akan kembali ke tempat tinggalnya. Atau perantau akan kembali ke kampung halaman saat lebaran tiba. Begitu juga seharusnya dengan kita, menganggap akhirat adalah kampung halaman kita.
    • Jika hati mulai condong pada keduniaan, maka ziarahilah pekuburan dan ingatlah orang-orang yang dipendam di sana, bahwa kita juga akan menyusul mereka cepat atau lambat. Abu Darda’ ra berkata: “Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah mati, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah mati itu.”
    • Rasul mewanti-wanti kita supaya jangan mencela orang mati. Kalau kita menyebut-nyebut keburukannya, akan menambah dosanya sementara dia sendiri sudah tidak bisa bertaubat lagi.
    • Doa memohon khusnul khatimah (meninggal dalam kondisi Islam)
    Dari Abu Al Yasaar ia berkata: “Rasulullah SAW membaca doa, ‘Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kematian karena jatuh dari tempat yang tinggi, tertimpa reruntuhan, tenggelam dan terbakar. Dan aku berlindung kepadaMu dari bujukan setan saat sakaratul maut, kematian saat lari dari perang di jalanMu, serta mati karena sengatan binatang melata.’” [HR An-Nasaa’i]

    Mengingat pedihnya kematian
    • Dalam sebuah hadits diceritakan tentang saat sakaratul maut Rasulullah SAW di hadapan Rasulullah ada bejana berisi air untuk beliau mengusap wajahnya seraya bersabda: “Laa Ilaha Illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat.” [HR Bukhari]
    • “Ziarahilah qubur-qubur, karena hal itu mengingatkan kalian kepada akhirat.” [HR Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnul Mubarak]
    • Dari Syaddad bin Aus dari Nabi SAW beliau bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” [HR at-Turmudzi]
    (Ringkasan Tausyiah Kajian Muslimah di Masjid Raya Pondok Indah)

    Tags: ,

    Masjid Raya Pondok Indah

    Menjadikan Masjid sebagai pusat unggulan dalam peribadatan, dakwah, sosial keagamaan dengan sistem pengelolaan modern

    0 comments

    Leave a Reply